Selamat Datang di Asnan Space
Assalamu ALaikum Wr.Wb. Saya Khaerul Asnan, Di blog ini anda dapat mendownload lagu, download software, membaca artikel tentang kesehatan, PRAMUKA, meteri pelajaran, motivasi hidup dan lain-lain. Selamat menjelajah
Satu Pramuka untuk Satu Indonesia
di Blog ini Anda dapat mencari Info ter up-date tentang Gerakan Pramuka
Belajar Tanpa Kenal Lelah
Jangan pernah berhenti untuk belajar, dapatkan materi pelajaran untuk SMA terkhusus materi pelajaran bahasa Inggris di blog ini
Hidup Itu Indah
Jangan pernah menatap dunia terlalu sempit. Tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. temukan tips-tips hidup dan motivasi di blog ini
Up Grade PC dan Notebook-mu
Dapatkan pengetahuan komputer dan software pendukung yang dijamin dapat membuat kamu, PC dan Notebookmu tampil beda
Tampilkan postingan dengan label Satu Pramuka untuk Satu Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Satu Pramuka untuk Satu Indonesia. Tampilkan semua postingan
Rabu, 22 Mei 2013
Minggu, 02 Desember 2012
Kepemimpinan yang baik diawali berpakaian pramuka yang benar
Seragam Pramuka adalah suatu kostum yang dipakai seseorang sehingga dapat memberikan kesan bahwa pemakainya adalah seorang anggota Pramuka. Dibagian lain seragam pramuka dilengkapi pula dengan atribut berupa tanda-tanda yang melekat pada pakaian seragam pramuka. Sesuai dengan sistem pendidikan yang dilakukan di dalam Gerakan Pramuka, maka pakaian seragam inipun merupakan alat pendidikan, yang diharapkan dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku Pramuka yang mengenakannya. Di Gerakan Pramuka telah diatur dengan Petunjuk Penyelengaraan tentang Seragam Pramuka. Seragam Pramuka memiliki nilai histories, dimana penggunaan warna coklat muda dan coklat tua mengingatkan para pramuka akan pakaian yang digunakan oleh pejuang-pejuang kita di masa revolusi yang lalu, dan para prajurit yang berada di garis pertempuran. Oleh karena itu penggunaan pakaian seragam ini dipakai untuk menanamkan jiwa patriotisme yang besar dikalangan Pramuka. Di samping itu pakaian seragam ini harus praktis, menarik, menyenangkan dan membanggakan bagi pemakainya.
Pada akhir saat ini, kita masih seringkali menyaksikan para pemimpin pramuka, andalan, pembina bahkan peserta didik yang masih belum paham tentang seragam pramuka dan tanda-tanda satuan pada seragam, baik pemakaian dan penggunaannya. Adakalanya seragam Pramuka dengan tandanya dan bahkan ditambah-tambahi tanda lainnya dikenakan sesuai dengan selera dan kemauannya sendiri. Mestinya disaat memakai seragam Pramuka beserta atributnya dapat menjadikan seseorang lebih percaya diri, lebih mantap dalam menjalankan tugas dan kegiatan, serta dapat menjaga dan memberikan image yang baik bagi lingkungan dan dirinya sendiri. Sebaliknya ketika etika berseragam pramuka ini mulai diabaikan, maka akan nampak terkesan apa adanya, asal tempel dan asal ngetrend dll. Perilaku seperti hal tersebut di atas malah dapat mendiskreditkan nilai keberadaan sebuah seragam, sedangkan bagi pemakainya akan mendapatkan image yang kurang baik.
Seorang Pemimpin di Gerakan Pramuka mestinya mengenal betul bagaimana pakaian seragam itu dikenakan, kapan dan dalam acara apa pakaian seragam dipergunakan, demikian pula tanda-tandanya. Seorang pemimpin bila perlu memiliki catatan-gambaran di saat menghadiri sebuah acara baik apakah itu formal maupun non formal. Bilamana hal-hal tersebut ternyata diketahui memang benar-benar belum dipahami oleh seorang pemimpin, maka sudah menjadi kewajiban bagi para Pembina,andalan kwartir, pelatih untuk dapat memberikan masukan, mengingatkan dan menyarankan bagaimana cara berpakaian pramuka yang baik tapi benar. Mengapa demikian ? Seorang pemimpin adalah tokoh sentral yang harus dijaga, baik dalam cara berpakaian dan berpenampilan. Pemimpin akan menjadi tokoh utama yang akan menjadi perhatian dan dilihat bagi khalayak ramai. Bila ini telah dijalankan, tanpa disadari apa yang dilakukan ini sudah menjadikan kita dapat melindungi kewibawaan dan image bagi seorang pemimpin. Jika segan untuk mengingatkan dan memberitahukan maka yang terjadi malah sebaliknya, cemooh dan pembiaran terhadap pemimpinnya melakukan sebuah kesalahan.
Berpijak pada pengalaman penulis, seringkali kita temui pada acara-acara formal dimana tokoh sentral maupun pemimpin pramuka menggunakan seragam maupun atribut yang belum sesuai dengan tata cara berseragam pramuka yang benar. Sebelum tampil atau mengikuti acara tersebut, sebaiknya kita tata atributnya agar nampak rapi dan benar. Kekuranglengkapan seragam pramuka, biasanya sebatas atribut, bahkan dalam pengalaman ini, seorang kepala daerah pun dapat melakukan kekeliruan, tentunya bila perlu kita “ mengorbankan” apa yang kita miliki. Akhirnya kita lebih baik hadir dengan atribut “compang-camping” daripada mendampingi seorang pemimpin dengan berpenampilan buruk.
Pemimipin Pramuka, ketika akan memulai sebuah kepemimpinan di lingkungan kwartir dipastikan akan belajar memahami dan menguasai kewajibannya, apa yang harus dilakukan termasuk bagaimana cara berpakaian yang benar, bila belum paham maka akan menanyakan kepada kepada staf / andalannya. Untuk itu bagi mereka yang notabene pembina pramuka/ pelatih sudah seharusnya memberikan masukan yang sebenar-benarnya. Hindari sikap, yang penting Asal Bapak-ibu Selera (ABS). Hal ini penting agar tidak terjadi kekeliruan dalam penggunaan seragam dan atributnya di kemudian hari.
Di Gerakan Pramuka Seorang Pemimpin adalah teladan bagi yang lainnya. Karenanya kepemimpinan yang baik akan diawali dengan cara berpakaian seragam pramuka yang baik dan benar pula.
Senin, 26 November 2012
Baden Powell dan Sejarah Kepanduan Dunia
Berbicara
mengenai Gerakan Pramuka, maka tidak akan lepas dari pendiri gerakan
kepanduan, yaitu “Lord Baden Powell Of Gilwell”. Beliau dilahirkan di
“London, Inggris”, pada tanggal “22 Februari 1857”. Nama Lengkapnya
adalah “Robert Stephenson Smyth Baden Powell”. Tetapi para pandu
(pramuka) biasa memanggil beliau dengan sebutan “Baden Powell”. Nama
kecil Baden Powell adalah “Ste, Stephe atau Stephenson” (tapi paling
sering dipanggil dengan nama Steevie). Dan baru dipanggil dengan nama
“Robert” atau “Sir Robert” setelah mendapat gelar Ksatria dari “Raja
Inggris”.
Ayah dari Baden Powell adalah “Prof. Domine Baden
Powell”, seorang guru besar geometri di “Universitas Oxford, Inggris”.
Sedangkan Ibu Baden Powell adalah “Henrietta Grace Smyth”, seorang
puteri dari Admiral kerajaan Inggris yang terkenal, yaitu “William T.
Smyth”.
Baden Powell dilahirkan dalam sebuah keluarga besar.
Baden Powell mempunyai 9 (sembilan) orang saudara, yaitu : “Warington,
George, Augustus, Frank, Penrose, Agnes, Henrietta, Jessie dan Baden
Fletcher”. Dan Baden Powell bersama saudara-saudaranya bertambah akrab
sepeninggal ayahnya yang meninggal pada “tanggal 11 Juni 1860”. Pada
usia 3 tahun Baden Powell telah menjadi seorang naka yatim. Sehingga
dari sejak usia masih sangat muda, Baden Powell dituntut untuk dapat
hidup mandiri. Baden Powell telah berusaha untuk hidup mandiri dengan
hanya didukung oleh kekerasan hati serta keteguhan ibundanya yang
tercinta “Ny. Henrietta Grace Smyth”.
Setelah menemukan banyak
kesulitan dalam memilih sekolah yang tepat untuk Baden Powell seperti
Rugby atau Eton, akhirnya Ny. Hentrietta Grace Smyth memasukkan Baden
Powell ke “Charterhouse School” pada “tahun 1870”. Di Charterhouse,
Baden Powell sangat popular (terkenal) selain pandai dalam belajar,
sehingga Baden Powell meraih beasiswa, Baden Powell juga mengikuti
kegiatan-kegiatan ekstra seperti Marching Band, Klub menembak (Rifle
Corps), Teater, Melukis dan menggambar, Kiper kesebelasan Chaterhouse.
Di Chaterhouse School inilah Baden Powell mendapat julukan lainnya,
yaitu “Bathing-Towel”.
Pada usia 19 tahun Baden Powell
menamatkan sekolah di Chaterhouse School. Dan akhirnya Baden Powell
bergabung dengan dinas kemiliteran, atas bantuan pamannya “Kolonel Henry
Smyth”, komandan dari Royal Military Academy di Woolwich. Kemudian
setelah lulus dari akademi militer tersebut Baden Powell ditempatkan di
“India”, dengan pangkat “Pembantu Letnan”.
Pengalaman Baden
Powell di ketentaraan inilah yang nantinya akan banyak mempengaruhi
perkembangan berdirinya gerakan kepanduan di Inggris. Selain itu Baden
Powell juga terkenal sebagai orang yang pandai bergaul dan banyak
kawannya, salah seorang sahabatnya yang paling dekat adalah “Kenneth Mc.
Laren”. Setelah sempat berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain,
dari satu daerah ke daerah lain, bahkan dari satu Negara ke Negara lain.
Baden Powell akhirnya bertugas di “Mafeking”, sebuah kota dipedalaman
“Afrika Selatan”. Kota inilah yang membuat nama Baden Powell menjadi
terkenal dan dianggap pahlawan oleh bangsanya, karena jasa-jasanya dalam
memimpin pertahanan kota Mafeking terhadap pengepungan bangsa “Boer”
selama kurang lebih “217 hari” (dari tanggal “13 Oktober 1899” sampai
dengan tanggal “18 Mei 1900”). Karena jasa-jasanya tersebut, pangkat
Baden Powell dinaikkan menjadi “Mayor Jenderal”. Selama bertugas di
Afrika, Baden Powell banyak melakukan petualangan sehingga
pengalaman-pengalamannya semakin bertambah. Dan karena keberaniannya,
Baden Powell sempat mendapat julukkan dari “suku-suku primitive” seperti
“suku Zulu, Ashanti atau Metabele” sebagai “IMPEESA” yang artinya
adalah “Srigala yang tidak pernah tidur”.
Pada tahun 1901,
Baden Powell kembali ke tanah airnya, Inggris dengan disambut
besar-besaran sebagai salah satu pahlawan bangsanya. Kemudian Baden
Powell sempat pula menulis pengalaman-pengalamannya dalam buku “Aids to
Scouting”. Pada tahun 1907 Baden Powell mendapatkan undangan dari
perkumpulan Boys Brigade untuk mengisahkan pengalaman-pengalamannya
selama di Afrika khususnya dan selama di dinas ketentaraan umumnya,
dalam sebuah perkemahan yang diikuti dua puluh orang anggotanya.
Perkemahan pertama tersebut diselenggarakan di “Pulau Brownsea (Brownsea
Island)”.
Lalu pada “tahun 1908” Baden Powell menulis buku
“Scouting For Boys”, sebuah karya yang sangat spektakuler. Buku inilah
yang mengakibatkan perkembangan kepanduan menjadi semakin besar. Buku
ini menyebar diseluruh daratan Eropa sampai ke daerah-daerah jajahan.
Pada “tahun 1810”, Baden Powell “meletakkan jabatannya di dinas
ketentaraan” dengan pangkat terakhirnya adalah “Letnan Jendral”. Dan
mulailah Baden Powell berkonsentrasi penuh untuk mengembangkan kepanduan
ke seluruh dunia. Pada “tahun 1912”, Baden Powell mengadakan perjalanan
keliling dunia untuk menemui para pandu siberbagai Negara. Baden Powell
menikah dengan “Olave St. Clair Soames” (lebih dikenal dengan nama
“Lady Baden Powell”) pada “tahun 1912” dan dikarunia tiga orang anak,
yaitu : “Peter, Heather, dan Betty”.
Pada tahun 1920, para
pandu sedunia berkumpul di “Olimpia, London, Inggris” dalam acara
“Jambore Dunia yang pertama”. Pada hari terakhir kegiatan Jambore
tersebut (“tanggal 6 Agustus 1920”) Baden Powell diangkat sebagai “Chief
Scouth Of The World” atau “Bapak Pandu Sedunia”. Baden Powell juga
dianugerahi gelar “Lord Baden Powell Of Gilwell”, dengan julukan “Baron”
oleh “Raja George V”.
Setelah berkeliling dunia, termasuk
mengunjungi “Batavia” (sekarang Jakarta) pada tanggal “3 Desember 1934”,
sepulangnya dari meninjau Jambore di Australia. Baden Powell beserta
Lady Baden Powell menghabiskan masa-masa akhirnya tinggal di Inggris
(sekitar tahun 1935 – 1938). Kemudian Baden Powell kembali ke tanah yang
dicintainya, Afrika. Dan Baden powell menghabiskan masa tuanya di
“Nyeri, Kenya”. Beliau akhirnya, meninggal dunia pada tanggal “8 Januari
1941”.
Selasa, 21 Februari 2012
Revitalisasi Gerakan Pramuka
Latar Belakang
Adanya kemunduran Gerakan Pramuka, yakni:
1. Eksistensi dan peran Gerakan Pramuka yang semakin berkurang.
2. Keterlambatan menyesuaikan diri atas berbagai perubahan yang terjadi.
Adanya kemunduran Gerakan Pramuka, yakni:
1. Eksistensi dan peran Gerakan Pramuka yang semakin berkurang.
2. Keterlambatan menyesuaikan diri atas berbagai perubahan yang terjadi.
Pengertian
Revitalisasi Gerakan Pramuka (GP) adalah pemberdayaan Gerakan Pramuka yang dilakukan secara sistematis, berkelanjutan dan terencana untuk lebih meningkatkan peran, fungsi dan tugas pokok Gerakan Pramuka serta memperkokoh eskistensi organisasi Gerakan Pramuka.
Revitalisasi Gerakan Pramuka (GP) adalah pemberdayaan Gerakan Pramuka yang dilakukan secara sistematis, berkelanjutan dan terencana untuk lebih meningkatkan peran, fungsi dan tugas pokok Gerakan Pramuka serta memperkokoh eskistensi organisasi Gerakan Pramuka.
Hakekat Revitalisasi Gerakan Pramuka
1. Eksis dan hidup dinamis.
2. Keseimbangan dengan tetap mempertahankan tradisi yang baik (back to basic), disamping melakukan inovasi
3. Berdayaguna dan disukai kaum muda
1. Eksis dan hidup dinamis.
2. Keseimbangan dengan tetap mempertahankan tradisi yang baik (back to basic), disamping melakukan inovasi
3. Berdayaguna dan disukai kaum muda
Tujuan Revitalisasi
1. GP dapat diterima dan diminati oleh kaum muda sebagai pilihan dalam proses belajar berorganisasi.
2. GP dipercaya sebagai wahana membentuk watak dan mengembangkan kepribadian kaum muda
3. GP dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan melaksanakan kegiatannya secara cerdas dan gemilang dapat membantu menangkal serta membantu menyelesaikan berbagai masalah kaum muda
4. GP dapat diterima sebagai institusi yang menyelenggarakan pendidikan bela negara
1. GP dapat diterima dan diminati oleh kaum muda sebagai pilihan dalam proses belajar berorganisasi.
2. GP dipercaya sebagai wahana membentuk watak dan mengembangkan kepribadian kaum muda
3. GP dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan melaksanakan kegiatannya secara cerdas dan gemilang dapat membantu menangkal serta membantu menyelesaikan berbagai masalah kaum muda
4. GP dapat diterima sebagai institusi yang menyelenggarakan pendidikan bela negara
Modal Dasar Revitalisasi
1. Legalitas : Kepres no 238 th 1961,
2 Kepres no 104 th 2004 ,
3. Keputusan Kwarnas no 086 th 2005 ,
4. Sambutan presiden ri tgl 14 agustus 2006 ,
5. Strategy for scouting th 2002
6. Visi dan misi , strategi , rentra
7. Program kerja Gerakan Pramuka.
1. Legalitas : Kepres no 238 th 1961,
2 Kepres no 104 th 2004 ,
3. Keputusan Kwarnas no 086 th 2005 ,
4. Sambutan presiden ri tgl 14 agustus 2006 ,
5. Strategy for scouting th 2002
6. Visi dan misi , strategi , rentra
7. Program kerja Gerakan Pramuka.
Kondisi Kaum Muda dan Gerakan Pramuka Saat Ini
Meningkatnya jumlah kaum muda yg tidak bisa melanjutkan pendidikan, terlibat kriminal, pengguna nafza, melakukan hubungan seksual yang tidak syah menurut agama, melakukan aborsi, melakukan tindak kekerasan, perkelahian dan tawuran. Jumlah anggota Gerakan Pramuka kurang lebih 21.000.000 orang. Mayoritas anggota GP belum menghayati sistem nilai GP, pengurus dan organisasi GP tidak aktif dan jarang berkarya serta gugus depan GP tidak menyelenggarakan kegiatan kepramukaan sebagaimana mestinya. Sistem GP belum dapat diterapkan dengan seksama. Kendala yang dihadapi : infrasturktur dan manajemen GP belum terbarukan sesuai dengan perubahan lingkungan strategis, penerapan prinsip dasar kepramukaan belum dilakukan secara konsisten dan terus menerus, pembinaan anggota dewasa belum dilakukan dengan baik, kerjasama kemitraan belum dilakukan secara maksimal dan dasar hukum GP belum cukup kuat.
Meningkatnya jumlah kaum muda yg tidak bisa melanjutkan pendidikan, terlibat kriminal, pengguna nafza, melakukan hubungan seksual yang tidak syah menurut agama, melakukan aborsi, melakukan tindak kekerasan, perkelahian dan tawuran. Jumlah anggota Gerakan Pramuka kurang lebih 21.000.000 orang. Mayoritas anggota GP belum menghayati sistem nilai GP, pengurus dan organisasi GP tidak aktif dan jarang berkarya serta gugus depan GP tidak menyelenggarakan kegiatan kepramukaan sebagaimana mestinya. Sistem GP belum dapat diterapkan dengan seksama. Kendala yang dihadapi : infrasturktur dan manajemen GP belum terbarukan sesuai dengan perubahan lingkungan strategis, penerapan prinsip dasar kepramukaan belum dilakukan secara konsisten dan terus menerus, pembinaan anggota dewasa belum dilakukan dengan baik, kerjasama kemitraan belum dilakukan secara maksimal dan dasar hukum GP belum cukup kuat.
Pemikiran Dasar Revitalisasi Gerakan Pramuka
1. Perkuat Gerakan Pramuka sebagai Wadah pembentukan kader bangsa
2. Raih keberhasilan melalui kerja keras secara cerdas dan ikhlas
3. Ajak kaum muda meningkatkan semangat bela negara
4. Mantapkan tekad kaum muda sebagai patriot pembangunan
5. Utamakan kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya
6. Kokohkan persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia
7. Amalkan Satya dan Darma Pramuka
1. Perkuat Gerakan Pramuka sebagai Wadah pembentukan kader bangsa
2. Raih keberhasilan melalui kerja keras secara cerdas dan ikhlas
3. Ajak kaum muda meningkatkan semangat bela negara
4. Mantapkan tekad kaum muda sebagai patriot pembangunan
5. Utamakan kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya
6. Kokohkan persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia
7. Amalkan Satya dan Darma Pramuka
Langkah-langkah Strategis Revitalisasi Gerakan Pramuka
1. Memperkuat kepemimpinan dan manajemen kwartir di semua jajaran
2. Merapatkan barisan Pembina Pramuka, Pelatih Pembina dan Andalan serta Majelis Pembimbing
3. Mengaktifkan Perindukan Siaga, Pasukan Penggalang, Ambalan Penegak dan Racana Pandega sebagai media penguatan sesama dan antar kelompok sebaya gugus depan
4. Memantapkan penerapan Prinsip Dasar Kepramukaan, Sistem Among dan Metode Kepramukaan.
5. Mengutamakan program peserta didik yang berdampak positif terhadap peningkatan semangat bela negara
6. Memperkokoh kemitraan dan dukungan sumberdaya dari semua komponen bangsa
7. Mengamalkan Satya dan Darma Pramuka
1. Memperkuat kepemimpinan dan manajemen kwartir di semua jajaran
2. Merapatkan barisan Pembina Pramuka, Pelatih Pembina dan Andalan serta Majelis Pembimbing
3. Mengaktifkan Perindukan Siaga, Pasukan Penggalang, Ambalan Penegak dan Racana Pandega sebagai media penguatan sesama dan antar kelompok sebaya gugus depan
4. Memantapkan penerapan Prinsip Dasar Kepramukaan, Sistem Among dan Metode Kepramukaan.
5. Mengutamakan program peserta didik yang berdampak positif terhadap peningkatan semangat bela negara
6. Memperkokoh kemitraan dan dukungan sumberdaya dari semua komponen bangsa
7. Mengamalkan Satya dan Darma Pramuka
Sasaran Revitalisasi
1. Sumber Daya Manusia (SDM) : Peserta Didik, Pembina, Pelatih Pembina ,Pamong, Instruktur dan Pimpinan Saka, Staf Sekretariat, Anggota Dewasa.
2. Organisasi : Mekanisme kerja, struktur dan personil, daya kerja, kerjasama.
3. Motode Pendidikan : Kurikulum, Silabus, sistem penyampaian materi pendidikan, pembinaan dan permainan serta fasilitas pendukung.
4. Materi Pendidikan : Pendalaman jenis kegiatan/permainan, pengembangan kreatifitas materi pembinaan/permainan, pengkajian materi pendidikan bagi Pembina dan Pelatih Pembina.
1. Sumber Daya Manusia (SDM) : Peserta Didik, Pembina, Pelatih Pembina ,Pamong, Instruktur dan Pimpinan Saka, Staf Sekretariat, Anggota Dewasa.
2. Organisasi : Mekanisme kerja, struktur dan personil, daya kerja, kerjasama.
3. Motode Pendidikan : Kurikulum, Silabus, sistem penyampaian materi pendidikan, pembinaan dan permainan serta fasilitas pendukung.
4. Materi Pendidikan : Pendalaman jenis kegiatan/permainan, pengembangan kreatifitas materi pembinaan/permainan, pengkajian materi pendidikan bagi Pembina dan Pelatih Pembina.
Kegiatan Kepramukaan Sebagai Dukungan Terhadap Realisasi Revitalisasi Gerakan Pramuka
1. Pelatihan kepemimpinan dan manajemen organisasi
2. Seleksi calon pemimpin, latihan dan regenerasi kepemimpinan
3. Penyertaan kaum muda dalam pengambilan keputusan
4. Penyelenggaraan temu giat secara berkala
5. Pertukaran peserta didik di dalam dan luar negeri
6. Penyertaan peserta didik dalam acara kenegaraan
7. Penumbuh kembangan Gugus Depan Wilayah
8. Pengembangan permainan edukatif, kreatif, menantang, menarik dan bermanfaat
9. Penyelenggaraaan pendidikan bela negara
10. Realisasi karya nyata
11. Penyelenggaraan program Pramuka Peduli
12. Pembentukan Tim Penanggulangan Bencana
13. Penyelenggaraan kegiatan usaha
14. Pembangunan kerjasama kemitraan
1. Pelatihan kepemimpinan dan manajemen organisasi
2. Seleksi calon pemimpin, latihan dan regenerasi kepemimpinan
3. Penyertaan kaum muda dalam pengambilan keputusan
4. Penyelenggaraan temu giat secara berkala
5. Pertukaran peserta didik di dalam dan luar negeri
6. Penyertaan peserta didik dalam acara kenegaraan
7. Penumbuh kembangan Gugus Depan Wilayah
8. Pengembangan permainan edukatif, kreatif, menantang, menarik dan bermanfaat
9. Penyelenggaraaan pendidikan bela negara
10. Realisasi karya nyata
11. Penyelenggaraan program Pramuka Peduli
12. Pembentukan Tim Penanggulangan Bencana
13. Penyelenggaraan kegiatan usaha
14. Pembangunan kerjasama kemitraan
Indikator Keberhasilan Revitalisasi
1. Pembina semakin profesional membimbing peserta didik dan kuantitasnya memadai
2. Pelatih Pembina kuantitas dan kualitasnya cukup
3. Peserta Didik semakin antusias dan aktif mengikuti pendidikan kepramukaan
4. Pamong dan Instruktur Saka semakin aktif membina dan melatih
5. Dana operasional kegiatan kepramukaan kwartir semakin memadai
6. Sarana dan prasarana semakin lengkap
7. Kejasama kemitraan semakin banyak dilakukan
8. Masyarakat antusias membentuk Gugus Depan Wilayah
9. Kwartir dan gugus depan semakin efisien dan efektif dalam melaksanakan kegiatan
10. Bakti masyarakat semakin banyak dilakukan
1. Pembina semakin profesional membimbing peserta didik dan kuantitasnya memadai
2. Pelatih Pembina kuantitas dan kualitasnya cukup
3. Peserta Didik semakin antusias dan aktif mengikuti pendidikan kepramukaan
4. Pamong dan Instruktur Saka semakin aktif membina dan melatih
5. Dana operasional kegiatan kepramukaan kwartir semakin memadai
6. Sarana dan prasarana semakin lengkap
7. Kejasama kemitraan semakin banyak dilakukan
8. Masyarakat antusias membentuk Gugus Depan Wilayah
9. Kwartir dan gugus depan semakin efisien dan efektif dalam melaksanakan kegiatan
10. Bakti masyarakat semakin banyak dilakukan
Senin, 20 Februari 2012
KURSUS PEMBINA PROFESIONAL TINGKAT DASAR
KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
KEPUTUSAN
KETUA KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR : 05 TAHUN 2002
TENTANG
TENTANG
PANDUAN KURSUS PEMBINA PROFESIONAL TINGKAT DASAR
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,
Menimbang
: 1. Bahwa dalam usaha memberdayakan jajaran Kwartir Gerakan
Pramuka sebagai pendukung gerak dinamika satuan-satuan Pramuka dalam
Gerakan Pramuka pelru adanya pelaksana pengelolaan Kwartir yang
memadai, baik kualitas maupun kuantitasnya dan bekerja secara
profesional;
2. Bahwa Kwarnas Gerakan Pramuka perlu menetapkan Panduan Kursus Pembina Profesional yang sesuai dengan AD/ART Gerakan Pramuka, Renstra Gerakan Pramuka 1999-2004 sebagai pedoman dan pengendalian penyelenggaraan kursus tersebut oleh jajaran Kwartir dan Lemdika dalam upaya mempersiapkan tenaga profesional di jajaran Kwartir;
2. Bahwa Kwarnas Gerakan Pramuka perlu menetapkan Panduan Kursus Pembina Profesional yang sesuai dengan AD/ART Gerakan Pramuka, Renstra Gerakan Pramuka 1999-2004 sebagai pedoman dan pengendalian penyelenggaraan kursus tersebut oleh jajaran Kwartir dan Lemdika dalam upaya mempersiapkan tenaga profesional di jajaran Kwartir;
Mengingat : 1. AD/ART Gerakan Pramuka;
2. Renstra Gerakan Pramuka 1999-2004;
3. Keputusan Ka Kwarnas Gerakan Pramuka Nomor : 091 Tahun 1999 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lemdikanas;
2. Renstra Gerakan Pramuka 1999-2004;
3. Keputusan Ka Kwarnas Gerakan Pramuka Nomor : 091 Tahun 1999 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lemdikanas;
Memperhatikan : 1. Sistem Pelatihan Anggota Dewasa Gerakan Pramuka;
2. Saran Pokja, Dewan Pelatih dan Staf Lemdikanas;
2. Saran Pokja, Dewan Pelatih dan Staf Lemdikanas;
M E M U T U S K A N :
Menetapkan :
Pertama : Mengesahkan Panduan Kursus Pembina Profesional, terdiri dari :
- Panduan Kursus Pembina Profesional Tingkat Dasar, tercantum dalam Lampiran I.
- Panduan Perkemahan Kursus Pembina Profesional tercantum dalam Lampiran II.
Kedua : Mewajibkan kepada seluruh jajaran Gerakan Pramuka untuk melaksanakan keputusan ini.
Ketiga : Keputusan ini mulai berlaku sejak ditetapkan.
Apabila ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini, akan diadakan pembetulan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 7 Januari 2002
Pada tanggal : 7 Januari 2002
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,
TTD
H.A. Rivai Harahap
Disalin sesuai dengan aslinya
Kwartir Cabang Kota Semarang
Sekretaris,
Kwartir Cabang Kota Semarang
Sekretaris,
TTD
Gunawan Surendro
NTA. 113300098
NTA. 113300098
KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
LAMPIRAN I KEPUTUSAN
KETUA KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR : 05 TAHUN 2002
PANDUAN KURSUS PEMBINA PROFESIONAL TINGKAT DASAR
(KPPD)
- DASAR PERTIMBANGAN
- Kehadiran para Pembina Pramuka, Pembina Gudep, Pembina satuan dan Pembina Saka, Andalan secara sukarela dalam organisasi Gerakan Kepramukaan merupakan salah satu penyebab utama eksistensi organisasi Gerakan Kepramukaan di dunia yang memasuki usia ke-100 tahun dan mendapat dukungan masyarakat dunia.
- Kemajuan teknologi dan komunikasi canggih yang berdampak menjagad, baik positif maupun negatif terhadap masyarakat lokal, nasional, regional dan internasional, khususnya generasi muda, merupakan tantangan yang dapat mengancam eksistensi organisasi Gerakan Kepramukaan Nasional, regional dan internasional.
- Keterbatasan jumlah, kemampuan dan sumberdaya para sukarelawan untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, diperlukan hadirnya mitra kerja di semua jajaran kwartir yang membatnu secara terus menerus dan bekerja penuh memberikan pikiran, tenaga dan kemampuan bagi pengabdian para sukarelawan dalam mempertahankan eksistensi organisasi Gerakan Kepramukaan.
- Pada tahun 1970-an World Scout Committee memutuskan hadirnya Pembina Profesional di World Scout Bureau di Genewa, dan mendorong organisasi nasional untuk memperkerjakan Pembina Profesional di kwartir-kwartir. Pembina Profesional adalah seorang pembina yang dilatih khusus dan berpengalaman dalam suatu bidang keahlian, bekerja penuh di kwartir organisasi Gerakan Kepramukaan membantu para sukarelawan sebagai mitra kerja dalam rangka pengabdian mereka mencapai tujuan Gerakan Kepramukaan. Untuk itu Pembina Profesional memperoleh imbalan berupa gaji dan kebutuhan lain.
- Pembina Profesional dalam jajaran kwartir yang efektif dapat direkrut dan diseleksi dari karyawan/staf kwartir atau anggota dewasa lainnya yang potensial dan disiapkan sebagai calon Pembina Profesional melalui Pelatihan Pembina Profesional Tingkat Dasar.
- Sejalan dengan hasil Munas Gerakan Pramuka 1998, dengan Rencana Strategik Gerakan Pramuka 1999-2004, Panca Karsa Utama yang isinya antara lain perlu khusus di kwartir-kwartir. Lemdikanas sebagai lembaga yang ditugasi untuk menyiapkan tenaga-tenaga profesional tersebut perlu mengadakan Kursus/Pelatihan Pembina Pramuka Profesional Tingkat Dasar.
- KURSUS PEMBINA PROFESIONAL TINGKAT DASAR
- Tujuan
Kursus
Pembina Profesional Tingkat Dasar diselenggarakan dengan tujuan
mempersiapkan anggota dewasa, staf kwartir yang potensial, sebagai
calon Pembina Profesional di jajaran Kwartir Gerakan Pramuka.
- Sasaran
Setelah mengikuti Kursus Pembina Profesional Tingkat Dasar (KPPD) peserta mampu :
- Menjelaskan dan menerapkan AD/ART Gerakan Pramuka, atas dasar penghayatan yang kritis, dalam melaksanakan tugas pekerjaan di kwartir.
- Menjelaskan fungsi, peran, tugas dan tanggungjawab Pembina Profesional.
- Melaksanakan tugas dan pekerjaannya secara profesional yang dilandasi Kode Kehormatan Pramuka.
- Melakukan hubungan profesional dengan Andalan, Majelis Pembimbing yang dilandasi Kode Kehormatan Pramuka.
- Memiliki pengertian mendasar dan menerapkan manajemen kwartir dalam Gerakan Pramuka.
- Memiliki pengertian mendasar administrasi perkantoran sebagai alat Sistem Informasi Manajemen kwartir.
- Menyusun usulan proyek.
- Menyusun pelaporan manajemen.
- Menerapkan sikap, tindaklaku keterampilan manajerial yang sesuai dengan Kode Etik Pramuka dan kultur Gerakan Pramuka.
- Bekerja sebagai “Team”
- Menjelaskan pengertian dasar Program Kegiatan Peserta Didik (Prodik).
- Menjelaskan pengertian dasar Pembinaan Anggota Dewasa (Binawasa).
- Membina dan mengembangkan ketahanan moral/mental/spiritual, pisik, intelektual, emosional dan sosial sehingga dirinya menjadi :
- Mandiri
- Peduli
- Bertanggungjawab, dan
- Memegang teguh janji (komitmen)
- Kurikulum
- Pengantar 6 sesi
- Pembukaan 1 sesi
- Orientasi 1 sesi
- Pre test 2 sesi
- Dinamika kelompok 2 sesi
- Inti
Modul 1 : Kepramukaan
- Penghayatan AD/ART Gerakan Pramuka 4 sesi
- Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan 2 sesi
- Kode Kehormatan Pramuka 2 sesi
- Kepramukaan sebagai pengabdian 2 sesi
- Program Kegiatan Peserta Didik (Prodik) 2 sesi
- Pembinaan Anggota Dewasa (Binawasa) 2 sesi
Modal 2 : Organisasi
- Organisasi Gerakan Pramuka 2 sesi
- Musyawarah dalam Gerakan Pramuka 2 sesi
- Kepengurusan Kwartir 2 sesi
- Fungsi, Peran, Tugas dan Tangggungjawab Kwartir 2 sesi
- Majelis Pembimbing dalam Gerakan Pramuka 2 sesi
Modul 3 : Manajemen
- Dasar-dasar Manajemen 2 sesi
- Manajemen Kwartir 3 sesi
- Kultur Manajemen Kwartir 2 sesi
- Manajemen Perubahan 2 sesi
- Sistem Informasi Manajemen dan
Administrasi Perkantoran Kwartir 3 sesi
- Manajemen Konflik 2 sesi
- Manajemen Sumber Daya Kwartir 2 sesi
- Renstra & Progia 4 sesi
- Kepemimpinan 2 sesi
- Komunikasi 2 sesi
- Kehumasan 2 sesi
- Hubungan (relations) 2 sesi
Modul 4 : Pembina Profesional
- Apa, Siapa, Mengapa, Tujuan, Sasaran Kehadiran
Pembina Profesional dalam Gerakan Pramuka 2 sesi
- Fungsi, Peran, Tugas dan Tanggungjawab
Pembina Profesional 2 sesi
- Pendidikan Pembina Profesional 2 sesi
- Pengangkatan, Penempatan Pembina Profesional 2 sesi
Modul 5 : Outdoor/Kegiatan Alam Terbuka
- Team Building 2 sesi
- Kerjasama Team 2 sesi
- Pengembangan Manajerial 4 sesi
- Pelengkap 8 sesi
Modul 6 :
- Satuan Karya Pramuka 1 sesi
- Post Test 2 sesi
- Rencana Tindaklanjut 2 sesi
- Forum Terbuka 2 sesi
- Penutup 1 sesi
Jumlah 82 sesi
Catatan : Perhatikan Pola Umum KPPD.
Catatan : Perhatikan Pola Umum KPPD.
- Metode
Metode yang digunakan dalam KPPD adalah metode pendidikan anggota dewasa dengan menggunakan pendekatan andragogi antara lain :
- Dinamika Kelompok
- Diskusi
- Proyek Kelompok
- Lokakarya
- Curah Gagasan
- Outdoor.
- Waktu
- KPPD dilaksanakan selama 7 hari, terbagi atas 4 hari dalam ruangan dan 3 hari di pekemahan.
- KPPD dapat dilaksanakan secara bertahap atau terus menerus.
- Tempat
Lemdikada atau tempat lain yang memenuhi syarat untuk proses pendidikan anggota dewasa.
- Peserta
- Jumlah peserta KPPD maksimum 40 orang.
- Persyaratan peserta :
- Anggota Dewasa Gerakan Pramuka, Staf Kwartir.
- Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Sehat jasmani dan rohani.
- Berkelakuan baik.
- Berpendidikan formal minimal SLTA.
- Mendapat rekomendasi dari Kwartir.
- Berusia maksimal 45 tahun.
- Bersedia mengikuti KPPD secara penuh.
- Tim Pelatih
- Pelatih KPPD tergabung dalam Tim Pelatih yang dibentuk dan disahkan oleh Ka Lemdika.
- Tim Pelatih disusun sebagai berikut :
- Ketua Tim Pelatih/Pemimpin Kursus dijabat oleh Pelatih Pembina Pramuka lulusan KPL yang memiliki SHL, aktif melatih dan berlatar belakang akademis dengan suatu bidang keahlian.
- Anggota Tim Pelatih adalah :
- Pelatih Pembina Pramuka lulusan KPL atau KPD yang memiliki SHL, yang aktif melatih minimal 1 tahun dan memiliki keahlian dalam bidang yang sesuai dengan materi KPPD.
- Apabila diperlukan dapat mengundang Pelatih Tamu yang mempunyai keahlian dalam bidang yang diperlukan KPPD.
- Penyelenggara
Penyelenggara KPPD adalah Lemdika di semua jajaran Kwartir.
- Pelaksana
Pelaksana KPPD adalah Tim Pelatih yang diangkat/ditugaskan oleh Ka Lemdika jajaran Kwartir bersangkutan.
- Tanda Kelulusan
- Peserta KPPD yang lulus diberi sertifikat KPPD.
- Sertifikat dikeluarkan oleh Lemdika yang ditandatangani Ketua Tim Pelatih/Pemimpin KPPD dan Kepala Lemdika.
- Laporan Kursus
- Laporan KPPD dibuat oleh Ka Lemdika disampaikan kepada Kwartir atasannya dan Lemdikanas.
- Laporan ditulis dengan menggunakan formulir model 01/Lapdiklat.
- Laporan ditandatangani oleh :
- Ketua Tim Pelatih/Pemimpin KPPD
- Kepala Lemdika/Wakil dan
- Ketua Kwartir atau Wakil untuk jajaran Kwartir tingkat atasnya.
- PENUTUP
Panduan ini dapat dikembangkan sesuai dengan kepentingan, situasi dan kondisi perkembangan masyarakat.
Jakarta, 7 Januari 2002
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,
TTD
H.A. Rivai Harahap
KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
LAMPIRAN II SURAT KEPUTUSAN
KETUA KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR 05 TAHUN 2002
PANDUAN PERKEMAHAN KURSUS PEMBINA PROFESIONAL
TINGKAT DASAR
- DASAR PERTIMBANGAN
- Kegiatan di alam terbuka ini merupakan salah satu unsur Metode Kepramukaan, merupakan cara yang efektif dalam proses pembentukan watak dan kepribadian, pemantapan mental, moral, spiritual, fisik, intelektual, emosional dansosial serta sikap dan ketrampilan manajerial anggota Gerakan Pramuka sebagai individu dansebagai anggota masyarakat. Karena itu kegiatan di alam terbuka dalam Kepramukaan perlu dan penting dilaksanakan.
- Sedngkan berkemah merupakan salah satu bentuk kegiatan di alam terbuka sebagai penerapan Metode Kepramukaan yang mendorong anggota Gerakan Pramuka untuk membina dan mendidik dirinya secara mandiri serta introspeksi, sehingga menyadari tentang diri pribadinya yang berkaitan dengan Prinsip Dasar dan Kode Kehormatan Pramuka.
- Bekemah dengan berbagai acara kegiatannya harus dilaksanakan sesuai dengan Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan (PDMK) untuk mencapai tujuan pendidikan. Di samping itu berkemah dalam perkemahan Pramuka harus mengutamakan keselamatan, keamanan, kesehatan dan kenyamanan peserta didik.
- Para anggota dewasa Gerakan Pramuka bertanggungjawab atas efektif dan efisiennya berkemah sebagai alat pendidikan. Oleh karena itu anggota dewasa selain harus menghayati apa, mengapa, bagaimana, tujuan dan sasaran berkemah bagi Satuan Pramuka, juga wajib mengalami proses pendidikan dan perkemahan, sehingga mampu mengendalikan, mengawasi dan mengevaluasi kegiatan perkemahan yang dilaksanakan oleh Satuan-satuan Pramuka.
- Perkemahan dalam Kursus Pembina Profesional merupakan bagian integral KPPD untuk memberikan pengalaman praktis yang mendasar tentang perkemahan.
- PERKEMAHAN
- Perkemahan Kursus Pembina Profesional Tingkat Dasar (KPPD)
Perkemahan
KPPD merupakan kegiatan berkemah selama 3 (tiga) hari bagi para peserta
KPPD yang telah mengikuti kegiatan sesi dalam kelas selama 4 (empat)
hari dan merupakan persyaratan untuk memperoleh sertifikat mengikuti
(KPPD).
- Tujuan perkemahan adalah untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman praktis yang mendasar tentang berkemah sebagai acara kegiatan di alam terbuka dalam rangka menerapkan PDMK serta mengembangkan sikap dan ketrampilan manajerial para peserta KPPD.
- Sasaran Perkemahan KPPD adalah :
- Sebagai Pembina Profesional mampu :
- Menerapkan kegiatan berkemah dalam Perkemahan Pramuka berlandaskan PDMK sesuai dengan kepentingan, kebutuhan, situasi dan kondisi perkembangan peserta didik.
- Memotivasi para Pembina Pramuka untuk melaksanakan Perkemahan Satuan Pramuka sesuai dengan PDMK.
- Menjadikan kegiatan berkemah sebagai alat pendidikan yang efektif dan sesuai dengan kode etik Gerakan Pramuka.
- Sebagai Pribadi Anggota Dewasa Gerakan Pramuka :
- Mampu menerapkan keterampilan manajerial dan kepemimpinan yang efektif dalam melaksanakan pengelolaan Kwartir;
- Memperoleh pengetahuan dan pengalaman praktis keterampilan kepramukaan dan manajerial.
- Mampu menerapkan keterampilan dan komunikasi edukatif, baik dengan lingkungan maupun dengan luar lingkungan.
- Manajemen Perkemahan adalah Tim Pelatih yang dipimpin oleh Ketua Tim Pelatih dan sekaligus Pembina Perkemahan (Camp Chief), Perkemahan untuk putera dan puteri terpisah, sehingga perkemahan puteri dipimpin oleh Pembina Perkemahan puteri.
- Materi dalam perkemahan :
- Pembentukan Tim (Team Building)
- Kerjasama Tim)
- Kegiatan Kepramukaan.
- Pengembangan keterampilan manajerial dan kepemimpinan.
- Materi KPPD yang belum disampaikan melalui sesi dalam kelas.
- Perlengkapan berkemah dalam perkemahan :
- Perlengkapan pribadi :
- Perhatikan situasi dan kondisi perkemahan, seperti musim, lokasi, tujuan dan sasaran.
- Semua perlengkapan pribadi supaya disusun dalam ransel yang praktis dan tidak menyusahkan perjalanan.
- Obat-obatan yang diperlukan.
- Alat-alat perorangan yang diperlukan untuk kegiatan keterampilan berkemah.
- Barang-barang berharga tidak diperlukan.
- Perlengkapan kelompok :
- Sesuaikan dengan kepentingan, kebutuhan, situasi dan kondisi perkemahan.
- Tenda dan perlengkapannya.
- Alat dan perlengkapan kemah disusun rapi dan praktis, agar mudah digunakan.
- Proses dan Prosedur Perkemahan KPPD
- Persiapan
- Hari Pertama KPPD, ketika orientasi, peserta KPPD diberi informasi tentang Perkemahan KPPD yang akan dilaksanakan selama 3 (tiga) hari mulai hari ke-5 KPPD.
- Pada hari ke-4 KPPD, peserta mengadakan diskusi persiapan kelompok masing-masing.
- Pelaksanaan Perkemahan KPPD
- Pada hari ke-5 KPPD, peserta masing-masing kelompok berangkat menuju tempat berkemah dengan membawa perlengkapan berkemah, diharapkan tibadi lokasi pukul 09.00.
- Setiba di perkemahan berlapor kepada Pembina Perkemahan atau Pelatih.
- Kelompok memperoleh :
- Alat dan perlengkapan yang disediakan Tim Pelatih.
- Petunjuk lokasi perkemahan.
- Petunjuk-petunjuk lain dan jadwal acara perkemahan.
- Kelompok mendirikan kemah.
Setelah
lemah siap, Ketua Kelompok membagi tugas untuk tiap peserta. Dengan
dipimpin Ketua Kelompok membahas lembar penugasan kelompok tentang
Peraturan dan Tata Tertib Perkemahan untuk dilaporkan dalam Sidang
Pleno. Sidang Pleno merumuskan Peraturan dan Tata Tertib Perkemahan
untuk ditaati peserta perkemahan.
- Tiap peserta perkemahan mengisi formulir evaluasi dan menyerahkannya melalui Ketua Kelompok untuk diserahkan kepada Pembina Perkemahan pada hari terakhir.
- Penutupan Perkemahan
Penutupan Perkemahan sekaligus merupakan Penutupan Kursus.
Setelah Upacara Penutupan, Kelompok :
Setelah Upacara Penutupan, Kelompok :
- Membongkar kemah, membersihkannya, memeriksa, bila ada kerusakan melaporkannya kepada pelatih.
- Membersihkan dan merapikan tempat berkemah, sehingga tidak terlihat bahwa tempat tadi bekas berkemah.
- Ketua Kelompok mengembalikan alat perlengkapan yang diterima kepada Tim Pelatih.
- Kelompok meninggalkan tempat berkemah setelah tempat berkemah diperiksa oleh Tim Pelatih.
- Ketua Kelompok menyerahkan formulir evaluasi yang telah diisi oleh tiap peserta kepada Tim Pelatih pada waktu pemeriksaan.
- Evaluasi dan Pelaporan
Tim
Pelatih, dengan dipimpin oleh Ketuanya, mengadakan rapat untuk
melaporkan evaluasi peserta. Atas dasar hasil rapat ketua Tim Pelatih
menyusun laporan untuk disampaikan kepada Ka Lemdik dan ketua Kwartir.
- PENUTUP
- Panduan Perkemahan Kursus Pembina Profesional ini merupakan bagian terpadu dengan Panduan Kursus pembinaan Profesional.
- Guna melaksanakan Panduan Perkemahan Kursus Pembina Professional, perlu memperhatikan dan menyesuaikan dengan kepentingan, kebutuhan, situasi dan kondisi setempat.
Jakarta, 7 Januari 2002
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,
TTD
H.A. Rivai Harahap
Disalin sesuai dengan aslinya
Kwartir Cabang Kota Semarang
Sekretaris,
Disalin sesuai dengan aslinya
Kwartir Cabang Kota Semarang
Sekretaris,
TTD
Gunawan Surendro
NTA. 113300098
NTA. 113300098
Arti Lambang Gerpra
KEPUTUSAN
KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR : 006/KN/72
TAHUN 1972
TENTANG
LAMBANG GERAKAN PRAMUKA
KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR : 006/KN/72
TAHUN 1972
TENTANG
LAMBANG GERAKAN PRAMUKA
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
Menimbang :
a. bahwa lambang Gerakan Pramuka termaktub dalam Anggaran Dasar Pramuka pasal 6 berupa gambar Tunas Kelapa;
b. bahwa tunas kelapa sebagai gambar kiasan mempunyai arti simbolik yang penting, maka harus dipahami dan diingat oleh seyiap Pramuka, dan oleh karena itu uraian tentang arti kiasan itu harus sederhana, sehingga mudah dipahami dan mudah diingat oleh anak-anak.
b. bahwa tunas kelapa sebagai gambar kiasan mempunyai arti simbolik yang penting, maka harus dipahami dan diingat oleh seyiap Pramuka, dan oleh karena itu uraian tentang arti kiasan itu harus sederhana, sehingga mudah dipahami dan mudah diingat oleh anak-anak.
Mengingat : 1. Keputusan I MPRS No. XXVII/MPRS/1966;
2. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 238 Tahun 1961 juncto Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 12 Tahun 1971;
3. Putusan Musyawarah Majelis Permusyawaratan Pramuka, di Pandaan, Jawa Timur, tanggal 12 s.d. 20 Oktober 1970.
2. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 238 Tahun 1961 juncto Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 12 Tahun 1971;
3. Putusan Musyawarah Majelis Permusyawaratan Pramuka, di Pandaan, Jawa Timur, tanggal 12 s.d. 20 Oktober 1970.
MEMUTUSKAN
Pertama
: Mencabut Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No. 15/KN/67
Tahun 1967, tentang Lambang Gerakan Pramuka.
Kedua : Menetapkan gambar silhouette tunas kelapa yang tertera dalam lampiran Surat Keputusan ini sebagai lambang Gerakan Pramuka.
Ketiga : Menetapkan uraian arti kiasan lambang Gerakan Pramuka seperti yang tertera dalam lampiran Surat Keputusan ini.
Keempat : Pemakaian lambang Gerakan Pramuka sebagai lencana dan penggunaannya dalam sistem tanda-tanda, bendera, papan nama, dan lain sebagainya, diatur dalam Petunjuk-petunjuk Penyelenggaraan.
Kedua : Menetapkan gambar silhouette tunas kelapa yang tertera dalam lampiran Surat Keputusan ini sebagai lambang Gerakan Pramuka.
Ketiga : Menetapkan uraian arti kiasan lambang Gerakan Pramuka seperti yang tertera dalam lampiran Surat Keputusan ini.
Keempat : Pemakaian lambang Gerakan Pramuka sebagai lencana dan penggunaannya dalam sistem tanda-tanda, bendera, papan nama, dan lain sebagainya, diatur dalam Petunjuk-petunjuk Penyelenggaraan.
Keputusan ini berlaku mulai sejak ditetapkan.
Ditetapkan di : Jakarta.
pada tanggal : 31 Januari 1972.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
Ketua
pada tanggal : 31 Januari 1972.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
Ketua
Hamengku Buwono IX.
LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN
KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR 06/KN/72
TAHUN 1972
TENTANG
LAMBANG GERAKAN PRAMUKA
KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA
NOMOR 06/KN/72
TAHUN 1972
TENTANG
LAMBANG GERAKAN PRAMUKA
I. Gambar Silhouette tunas kelapa, lambang Gerakan Pramuka
II. Uraian arti kiasan lambang Gerakan Pramuka.
Satu
: Buah Nyiur dalam keadaan tumbuh dinamakan cikal dan istilah cikal
bakal di Indonesia berarti : penduduk aseli yang pertama, yang
menurunkan generasi baru.
Jadi lambang buah Nyiur yang tumbuh itu mengkiaskan, bahwa tiap Pramuka merupakan inti bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia
Dua : Buah Nyiur dapat bertahan lama dalam keadaan yang bagaimanapun djuga.
Jadi lambang itu mengkiaskan, bahwa setiap Pramuka adalah seorang yang rokhaniah dan jasmaniah sehat, kuat dan ulet serta besar tekadnya dalam menghadapi segala tantangan dalam hidup dan dalam menempuh segala ujian dan kesukaran untuk mengabdi tanah air dan bangsa Indonesia.
Tiga : Nyiur dapat tumbuh di mana saja, yang membuktikan besarnya daya-upayanya dalam menyesuaikan dirinya dengan keadaan sekelilingnya.
Jadi lambang itu mengkiaskan, bahwa tiap Pramuka dapat menyesuaikan diri dalam masjarakat dimana ia berada dan dalam keadaan yang bagaimanapun juga.
Empat : Nyiur bertumbuh menjulang lurus ke atas dan merupakan salah satu pohon yang tertinggi di Indonesia.
Jadi lambang itu mengkiaskan, bahwa tiap Pramuka mempunyai cita-cita yang tinggi dan lurus jakni yang mulia dan djudjur dan ia tetap tegak tidak mudah diombang-ambingkan oleh sesuatu.
Lima : Akar Nyiur yang bertumbuh kuat dan erat di dalam tanah melambangkan bahwa tekad dan kejakinan tiap Pramuka mempunjai dan berpegang kepada dasar-dasar dan landasan-landasan yang baik, benar, kuat dan nyata, ialah tekad dan keyakinan yang dipakai olehnya untuk memperkuat diri guna mencapai cita-citanja.
Enam : Nyiur adalah pohon yang serbaguna, dari ujung hingga akarnya. Jadi lambang itu mengkiaskan bahwa tiap Pramuka adalah manusia yang berguna dan membaktikan diri dan kegunaannya kepada kepentingan tanah air, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta kepada umat manusia.
Jadi lambang buah Nyiur yang tumbuh itu mengkiaskan, bahwa tiap Pramuka merupakan inti bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia
Dua : Buah Nyiur dapat bertahan lama dalam keadaan yang bagaimanapun djuga.
Jadi lambang itu mengkiaskan, bahwa setiap Pramuka adalah seorang yang rokhaniah dan jasmaniah sehat, kuat dan ulet serta besar tekadnya dalam menghadapi segala tantangan dalam hidup dan dalam menempuh segala ujian dan kesukaran untuk mengabdi tanah air dan bangsa Indonesia.
Tiga : Nyiur dapat tumbuh di mana saja, yang membuktikan besarnya daya-upayanya dalam menyesuaikan dirinya dengan keadaan sekelilingnya.
Jadi lambang itu mengkiaskan, bahwa tiap Pramuka dapat menyesuaikan diri dalam masjarakat dimana ia berada dan dalam keadaan yang bagaimanapun juga.
Empat : Nyiur bertumbuh menjulang lurus ke atas dan merupakan salah satu pohon yang tertinggi di Indonesia.
Jadi lambang itu mengkiaskan, bahwa tiap Pramuka mempunyai cita-cita yang tinggi dan lurus jakni yang mulia dan djudjur dan ia tetap tegak tidak mudah diombang-ambingkan oleh sesuatu.
Lima : Akar Nyiur yang bertumbuh kuat dan erat di dalam tanah melambangkan bahwa tekad dan kejakinan tiap Pramuka mempunjai dan berpegang kepada dasar-dasar dan landasan-landasan yang baik, benar, kuat dan nyata, ialah tekad dan keyakinan yang dipakai olehnya untuk memperkuat diri guna mencapai cita-citanja.
Enam : Nyiur adalah pohon yang serbaguna, dari ujung hingga akarnya. Jadi lambang itu mengkiaskan bahwa tiap Pramuka adalah manusia yang berguna dan membaktikan diri dan kegunaannya kepada kepentingan tanah air, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta kepada umat manusia.
Senin, 07 November 2011
Sejarah Kepramukaan Sedunia
Awal
tahun 1908 Baden Powell menulis pengalamannya untuk acara latihan
kepramukaan yang dirintisnya. Kumpulan tulisannya ini dibuat buku dengan
judul “Scouting For Boys”. Buku ini cepat tersebar di Inggris dan
negara-negara lain yang kemudian berdiri organisasi kepramukaan yang
semula hanya untuk laki-laki dengan nama Boys Scout.
Tahun
1912 atas bantuan adik perempuan beliau, Agnes didirikan organisasi
kepramukaan untuk wanita dengan nama Girl Guides yang kemudian
diteruskan oleh istri beliau.
Tahun
1916 berdiri kelompok pramuka usia siaga dengan nama CUB (anak
serigala) dengan buku The Jungle Book karangan Rudyard Kipling sebagai
pedoman kegiatannya. Buku ini bercerita tentang Mowgli si anak rimba
yang dipelihara di hutan oleh induk serigala.
Tahun
1918 beliau membentuk Rover Scout bagi mereka yang telah berusia 17
tahun. Tahun 1922 beliau menerbitkan buku Rovering To Success
(Mengembara Menuju Bahagia). Buku ini menggambarkan seorang pemuda yang
harus mengayuh sampannya menuju ke pantai bahagia.
Tahun 1920 diselenggarakan Jambore Dunia yang pertama di Olympia Hall, London.
Beliau mengundang pramuka dari 27 Negara dan pada saat itu Baden Powell
diangkat sebagai Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World).
Tahun 1924 Jambore II di Ermelunden, Copenhagen, Denmark
Tahun 1929 Jambore III di Arrow Park, Birkenhead, Inggris
Tahun 1933 Jambore IV di Godollo, Budapest, Hongaria
Tahun 1937 Jambore V di Vogelenzang, Blomendaal, Belanda
Tahun 1947 Jambore VI di Moisson, Perancis
Tahun 1951 Jambore VII di Salz Kamergut, Austria
Tahun 1955 Jambore VIII di sutton Park, Sutton Coldfild, Inggris
Tahun 1959 Jambore IX di Makiling, Philipina
Tahun 1963 Jambore X di Marathon, Yunani
Tahun 1967 Jambore XI di Idaho, Amerika Serikat
Tahun 1971 Jambore XII di Asagiri, Jepang
Tahun 1975 Jambore XIII di Lillehammer, Norwegia
Tahun 1979 Jambore XIV di Neishaboor, Iran tetapi dibatalkan
Tahun 1983 Jambore XV di Kananaskis, Alberta, Kanada
Tahun 1987 Jambore XVI di Cataract Scout Park, Australia
Tahun 1991 Jambore XVII di Korea Selatan
Tahun 1995 Jambore XVIII di Belanda
Tahun 1999 Jambore XIX di Chili, Amerika Selatan
Tahun 2003 Jambore XX di Thailand
Tahun
1914 beliau menulis petunjuk untuk kursus Pembina Pramuka dan baru
dapat terlaksana tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W.F. de Bois
Maclarren, beliau mendapat sebidang tanah di Chingford yang kemudian
digunakan sebagai tempat pendidikan Pembina Pramuka dengan nama Gilwell Park.
Tahun
1920 dibentuk Deewan Internasional dengan 9 orang anggota dan Biro
Sekretariatnya di London, Inggris dan tahun 1958 Biro Kepramukaan
sedunia dipindahkan dari London ke Ottawa Kanada. Tanggal 1 Mei 1968
Biro kepramukaan Sedunia dipindahkan lagi ke Geneva, Swiss.
Sejak
tahun 1920 sampai 19 Kepala Biro Kepramukaan Sedunia dipegang
berturut-turut oleh Hebert Martin (Inggris). Kolonel J.S. Nilson
(Inggris), Mayjen D.C. Spry (Kanada) yang pada tahun 1965 diganti oleh
R.T. Lund 1 Mei 1968 diganti lagi oleh DR. Laszio Nagy sebagai Sekjen.
Biro Kepramukaan sedunia Putra mempunyai 5 kantor kawasan yaitu Costa Rica, Mesir, Philipina, Swiss dan Nigeria. Sedangkan Biro kepramukaan Sedunia Putri bermarkas di London dengan 5 kantor kawasan di Eropa, Asia Pasifik, Arab, Afrika dan Amerika Latin.
Sejarah Gerakan Pramuka Indonesia
Masa Hindia Belanda
Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pemuda Indonesia mempunyai "saham" besar dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia serta ada dan berkembangnya pendidikan kepanduan nasional Indonesia. Dalam perkembangan pendidikan kepanduan itu tampak adanya dorongan dan semangat untuk bersatu, namun terdapat gejala adanya berorganisasi yang Bhinneka.Organisasi kepanduan di Indonesia dimulai oleh adanya cabang "Nederlandsche Padvinders Organisatie" (NPO) pada tahun 1912, yang pada saat pecahnya Perang Dunia I memiliki kwartir besar sendiri serta kemudian berganti nama menjadi "Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging" (NIPV) pada tahun 1916.
Organisasi Kepanduan yang diprakarsai oleh bangsa Indonesia adalah Javaansche Padvinders Organisatie; berdiri atas prakarsa S.P. Mangkunegara VII pada tahun 1916.
Kenyataan bahwa kepanduan itu senapas dengan pergerakan nasional, seperti tersebut di atas dapat diperhatikan pada adanya "Padvinder Muhammadiyah" yang pada 1920 berganti nama menjadi "Hizbul Wathan" (HW); "Nationale Padvinderij" yang didirikan oleh Budi Utomo; Syarikat Islam mendirikan "Syarikat Islam Afdeling Padvinderij" yang kemudian diganti menjadi "Syarikat Islam Afdeling Pandu" dan lebih dikenal dengan SIAP, Nationale Islamietische Padvinderij (NATIPIJ) didirikan oleh Jong Islamieten Bond (JIB) dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) didirikan oleh Pemuda Indonesia.
Hasrat bersatu bagi organisasi kepanduan Indonesia waktu itu tampak mulai dengan terbentuknya PAPI yaitu "Persaudaraan Antara Pandu Indonesia" merupakan federasi dari Pandu Kebangsaan, INPO, SIAP, NATIPIJ dan PPS pada tanggal 23 Mei 1928.
Federasi ini tidak dapat bertahan lama, karena niat adanya fusi, akibatnya pada 1930 berdirilah Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang dirintis oleh tokoh dari Jong Java Padvinders/Pandu Kebangsaan (JJP/PK), INPO dan PPS (JJP-Jong Java Padvinderij); PK-Pandu Kebangsaan). Berkas:KBI.jpg
PAPI kemudian berkembang menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada bulan April 1938.
Antara tahun 1928-1935 bermuncullah gerakan kepanduan Indonesia baik yang bernafas utama kebangsaan maupun bernafas agama. kepanduan yang bernafas kebangsaan dapat dicatat Pandu Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Kesultanan (PK), Sinar Pandu Kita (SPK) dan Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI). Sedangkan yang bernafas agama Pandu Ansor, Al Wathoni, Hizbul Wathon, Kepanduan Islam Indonesia (KII), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Kristen), Kepanduan Azas Katolik Indonesia (KAKI), Kepanduan Masehi Indonesia (KMI).
Sebagai upaya untuk menggalang kesatuan dan persatuan, Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia BPPKI merencanakan "All Indonesian Jamboree". Rencana ini mengalami beberapa perubahan baik dalam waktu pelaksanaan maupun nama kegiatan, yang kemudian disepakati diganti dengan "Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem" disingkat PERKINO dan dilaksanakan pada tanggal 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta.
Masa Bala Tentara Dai Nippon
"Dai Nippon" ! Itulah nama yang dipakai untuk menyebut Jepang pada waktu itu. Pada masa Perang Dunia II, bala tentara Jepang mengadakan penyerangan dan Belanda meninggalkan Indonesia. Partai dan organisasi rakyat Indonesia, termasuk gerakan kepramukaan, dilarang berdiri. Namun upaya menyelenggarakan PERKINO II tetap dilakukan. Bukan hanya itu, semangat kepramukaan tetap menyala di dada para anggotanya.Karena Pramuka merupakan suatu organisai yang menjungjung tinggi nilai persatuan.Oleh karena itulah bangsa jepang tidak mengijinkan Pramuka tetap lahir di bumi pertiwi.Masa Republik Indonesia
Sebulan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa tokoh kepramukaan berkumpul di Yogyakarta dan bersepakat untuk membentuk Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia sebagai suatu panitia kerja, menunjukkan pembentukan satu wadah organisasi kepramukaan untuk seluruh bangsa Indonesia dan segera mengadakan Konggres Kesatuan Kepanduan Indonesia.Kongres yang dimaksud, dilaksanakan pada tanggal 27-29 Desember 1945 di Surakarta dengan hasil terbentuknya Pandu Rakyat Indonesia. Perkumpulan ini didukung oleh segenap pimpinan dan tokoh serta dikuatkan dengan "Janji Ikatan Sakti", lalu pemerintah RI mengakui sebagai satu-satunya organisasi kepramukaan yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No.93/Bag. A, tertanggal 1 Februari 1947.
Tahun-tahun sulit dihadapi oleh Pandu Rakyat Indonesia karena serbuan Belanda. Bahkan pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1948 waktu diadakan api unggun di halaman gedung Pegangsaan Timur 56, Jakarta, senjata Belanda mengancam dan memaksa Soeprapto menghadap Tuhan, gugur sebagai Pandu, sebagai patriot yang membuktikan cintanya pada negara, tanah air dan bangsanya. Di daerah yang diduduki Belanda, Pandu Rakyat dilarang berdiri,. Keadaan ini mendorong berdirinya perkumpulan lain seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), Kepanduan Indonesia Muda (KIM).
Masa perjuangan bersenjata untuk mempertahankan negeri tercinta merupakan pengabdian juga bagi para anggota pergerakan kepramukaan di Indonesia, kemudian berakhirlah periode perjuangan bersenjata untuk menegakkan dan mempertahakan kemerdekaan itu, pada waktu inilah Pandu Rakyat Indonesia mengadakan Kongres II di Yogyakarta pada tanggal 20-22 Januari 1950.
Kongres ini antara lain memutuskan untuk menerima konsepsi baru, yaitu memberi kesempatan kepada golongan khusus untuk menghidupakan kembali bekas organisasinya masing-masing dan terbukalah suatu kesempatan bahwa Pandu Rakyat Indonesia bukan lagi satu-satunya organisasi kepramukaan di Indonesia dengan keputusan Menteri PP dan K nomor 2344/Kab. tertanggal 6 September 1951 dicabutlah pengakuan pemerintah bahwa Pandu Rakyat Indonesia merupakan satu-satunya wadah kepramukaan di Indonesia, jadi keputusan nomor 93/Bag. A tertanggal 1 Februari 1947 itu berakhir sudah.
Mungkin agak aneh juga kalau direnungi, sebab sepuluh hari sesudah keputusan Menteri No. 2334/Kab. itu keluar, maka wakil-wakil organi-sasi kepramukaan menga-dakan konfersensi di Ja-karta. Pada saat inilah tepatnya tanggal 16 September 1951 diputuskan berdirinya Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) sebagai suatu federasi.
Pada 1953 Ipindo berhasil menjadi anggota kepramukaan sedunia
Ipindo merupakan federasi bagi organisasi kepramukaan putera, sedangkan bagi organisasi puteri terdapat dua federasi yaitu PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia) dan POPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia). Kedua federasi ini pernah bersama-sama menyambut singgahnya Lady Baden-Powell ke Indonesia, dalam perjalanan ke Australia.
Dalam peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-10 Ipindo menyelenggarakan Jambore Nasional, bertempat di Ragunan, Pasar Minggu pada tanggal 10-20 Agustus 1955, Jakarta.
Ipindo sebagai wadah pelaksana kegiatan kepramukaan merasa perlu menyelenggarakan seminar agar dapat gambaran upaya untuk menjamin kemurnian dan kelestarian hidup kepramukaan. Seminar ini diadakan di Tugu, Bogor pada bulan Januari 1957.
Seminar Tugu ini meng-hasilkan suatu rumusan yang diharapkan dapat dijadikan acuan bagi setiap gerakan kepramukaan di Indonesia. Dengan demikian diharapkan ke-pramukaan yang ada dapat dipersatukan. Setahun kemudian pada bulan Novem-ber 1958, Pemerintah RI, dalam hal ini Departemen PP dan K mengadakan seminar di Ciloto, Bogor, Jawa Barat, dengan topik "Penasionalan Kepanduan".
Kalau Jambore untuk putera dilaksanakan di Ragunan Pasar Minggu-Jakarta, maka PKPI menyelenggarakan perkemahan besar untuk puteri yang disebut Desa Semanggi bertempat di Ciputat. Desa Semanggi itu terlaksana pada tahun 1959. Pada tahun ini juga Ipindo mengirimkan kontingennya ke Jambore Dunia di MT. Makiling Filipina.
Nah, masa-masa kemudian adalah masa menjelang lahirnya Gerakan Pramuka.
Kelahiran Gerakan Pramuka
Sejarah Pramuka Indonesia
Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi kalau akan menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, orang perlu mengkaji keadaan, kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun 1960.Dari ungkapan yang telah dipaparkan di depan kita lihat bahwa jumlah perkumpulan kepramukaan di Indonesia waktu itu sangat banyak. Jumlah itu tidak sepandan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan itu.
Peraturan yang timbul pada masa perintisan ini adalah Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang rencana pembangunan Nasional Semesta Berencana. Dalam ketetapan ini dapat ditemukan Pasal 330. C. yang menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepanduan adalah Pancasila. Seterusnya penertiban tentang kepanduan (Pasal 741) dan pendidikan kepanduan supaya diintensifkan dan menyetujui rencana Pemerintah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30). Kemudian kepanduan supaya dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powellisme (Lampiran C Ayat 8).
Ketetapan itu memberi kewajiban agar Pemerintah melaksanakannya. Karena itulah Pesiden/Mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepramukaan Indonesia, bertempat di Istana Negara. Hari Kamis malam itulah Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. Presiden juga menunjuk panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr.A. Azis Saleh dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa, Achmadi. Panitia ini tentulah perlu sesuatu pengesahan. Dan kemudian terbitlah Keputusan Presiden RI No.112 Tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebut oleh Presiden pada tanggal 9 Maret 1961.
Ada perbedaan sebutan atau tugas panitia antara pidato Presiden dengan Keputusan Presiden itu.
Masih dalam bulan April itu juga, keluarlah Keputusan Presiden RI Nomor 121 Tahun 1961 tanggal 11 April 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota Panitia ini terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial).
Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka.
Kelahiran Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan yaitu :- Pidato Presiden/Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA
- Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya. Tanggal 20 Mei adalah; Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ke tiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PERMULAAN TAHUN KERJA.
- Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka, dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada tanggal 30 Juli 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI IKRAR GERAKAN PRAMUKA.
- Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka, dan kesemuanya ini terjadi pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA.
Menurut Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, pimpinan perkumpulan ini dipegang oleh Majelis Pimpinan Nasional (MAPINAS) yang di dalamnya terdapat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Kwartir Nasional Harian.
Badan Pimpinan Pusat ini secara simbolis disusun dengan mengambil angka keramat 17-8-’45, yaitu terdiri atas Mapinas beranggotakan 45 orang di antaranya duduk dalam Kwarnas 17 orang dan dalam Kwarnasri 8 orang.
Namun demikian dalam realisasinya seperti tersebut dalam Keppres RI No.447 Tahun 1961, tanggal 14 Agustus 1961 jumlah anggota Mapinas menjadi 70 orang dengan rincian dari 70 anggota itu 17 orang di antaranya sebagai anggota Kwarnas dan 8 orang di antara anggota Kwarnas ini menjadi anggota Kwarnari.
Mapinas diketuai oleh Dr. Ir. Soekarno, Presiden RI dengan Wakil Ketua I, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Ketua II Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh.
Sementara itu dalam Kwarnas, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat Ketua dan Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh sebagai Wakil Ketua merangkap Ketua Kwarnari.
Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 bukan saja di Ibukota Jakarta, tapi juga di tempat yang penting di Indonesia. Di Jakarta sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar yang diikuti dengan pawai pembangunan dan defile di depan Presiden dan berkeliling Jakarta.
Sebelum kegiatan pawai/defile, Presiden melantik anggota Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari, di Istana negara, dan menyampaikan anugerah tanda penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia (Keppres No.448 Tahun 1961) yang diterimakan kepada Ketua Kwartir Nasional, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sesaat sebelum pawai/defile dimulai.
Peristiwa perkenalan tanggal 14 Agustus 1961 ini kemudian dilakukan sebagai HARI PRAMUKA yang setiap tahun diperingati oleh seluruh jajaran dan anggota Gerakan Pramuka.









